Kadang kamu butuh, kadang kamu bosan dan kamu kadang mencari-cari. Kamu tahu? Sekarang deh mulai mempersiapkan dan mengoptimalkan diri kamu, bagi sobat semua untuk belajar yang sebaik dan sesiap mungkin dalam menghadapi Ujian Nasional. Agar kita tidak terjerembab di dalam lubang penyesalan dan terperangkap dalam samudera kecewa nantinya.
Mungkin bagi kita semua khususnya pelajar yang berada di kelas 3 SMA, SMP maupun tingkat lainnya, banyak yang merasa dirinya belum lebih siap dan lebih matang dalam menghadapi Ujian Nasional di tahun 2011 ini. Padahal, berbagai cara sudah dilakukan, namun masih banyak juga ada sedikit yang mengkhawatirkan diri kita. Merasa gelisah atau kurang percaya diri. Kurangi semua sifat malas, waktu bermain yang hanya membuang waktu dengan percuma. Mulailah dengan tindakan yang sekecil mungkin dan mengulang kaji pelajaran-pelajaran yang telah lalu. Kita merasa sudah terlambat? Tidak ada kata yang namanya untuk belajar itu terlambat. Kembalilah membuka lembaran lama, buku catatan, pelajaran, buku bimbingan, soal-soal latihan yang sudah dikerjakan. Mulai kita semua duduk di bangku kelas I dan II sampai sekarang. Karena percuma saja jika buku yang kita pelajari jarang dibuka, dipelajari, apalagi dipandang. Padahal, manfaat belajar itu sangat dan sangat banyak. Dapat menambah ilmu, pengetahuan, wawasan dan lebih cepat kita dalam berpikir dan bertindak. Misalnya saja dalam belajar itu membaca. Membaca sangat jarang lagi ditemukan di kalangan masyarakat sekarang. Jika hanya ada, paling hanya beberapa saja. Jika dibandingkan dengan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta orang, angka itu sangat memprihatinkan. Artinya, 1 buku digunakan oleh 7 sampai 8 orang dalam setahun. Dibandingkan dengan Malaysia yang penduduknya hanya 26 juta, predikat membaca mereka 10 kali lipat di atas masyarakat Indonesia.
Selain soal minat, masalah ekonomi seringkali dianggap menjadi faktor utama dalam membaca. Jelas alasan itu tak cukup mendasar, karena membaca sama sekali tidak ada kaitannya dengan dengan uang. Bukankah tradisi membaca dalam belajar dalam bentuk apapun sudah ada jauh sebelum manusia mengenal uang? Apalagi sekarang ini, kemudahan mengakses informasi dan bacaan sesuai selera masing-masing orang relatif mudah dan nyaris bisa dilakukan dimana pun dan kapanpun. Persoalannya hanya soal minat dan tergantung pada kepribadian, itu saja! Karena tidak ada yang rugi jika kita ingin berhasil melalui mambaca. Begitu juga dengan diskusi dan dalam bentuk belajar lainnya.
Perang dengan UN
Sebentar lagi siswa-siswi SMA di negeri kita akan menghadapai ujian nasional alias UN. Untuk itu tentu mereka perlu belajar dengan “keras” agar lulus. Ya, perlu belajar “keras” memahami kembali segala materi yang sudah dipelajari sejak kelas X hingga kelas XII untuk menghadapi UN agar meraih kelulusan. Tetapi terkadang belajar “keras” tanpa dibarengi belajar dengan “cerdas” tidaklah cukup mengantarkan sampai menggapai target minimal kelulusan.
Salah satu cara yang dianggap sebagai belajar dengan “cerdas” dalam mempersiapkan diri menghadapi UN adalah dengan berlatih soal-soal, baik soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya, soal-soal prediksi UN (bocoran soal-soal), atau soal-soal yang setaraf. Dengan berlatih soal-soal semacam itu para diharapkan bagi kita semua supaya akan terbiasa dengan tipe soal atau masalah yang akan diujikan pada UN yang sesungguhnya. Dengan membiasakan diri berlatih soal-soal semacam itu pula diharapkan mereka tentunya tidak kaget saat UN yang seriusnya.
Juga cara mempersiapkan diri dengan berlatih mengerjakan soal-soal tampaknya dimanfaatkan betul oleh para lembaga yang membisniskan pendidikan! Ya, amat dimanfaatkan oleh mereka lembaga-lembaga calo pendidikan alias bimbingan tes fenomena lembaga semacam itu, sudah diketahui oleh kebanyakan masyarakat baik di kota-kota besar ataupun kecil bahkan sampai pelosok kampung.
Nah, salah satu mata pelajaran yang diujikan pada UN, dan yang paling sering digandrungi dan ditakuti kebanyakan kita, adalah matematika dan fisika. Karena itu, mau-tidak mau, suka-tidak suka, senang ataupun tidak, kita semua wajib mempersiapkannya. Ya, perlu bersiap diri dengan cara belajar dan berlatih mengerjakan soal-soal yang setaraf UN.
Banyak siswa siswi di Tanah Air ini, takut dengan Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan sekolah. Bagaimana tidak takut, selama tiga tahun atau lebih sekolah melalui jalur formal yang ditentukan 6 hari ujian. Pasalnya lagi minat dan kemampuan di setiap siswa berbeda. Sama juga halnya dengan yang terjadi sekarang. Faktor lain juga terletak pada pemerintah yang belum merata dalam memajukan pendidikan di tanah air ini. Contohnya seperti di Indonesia bagian barat, pendidikan maksimalnya belum terlaksana dengan baik. Masih banyak juga sekolah–sekolah yang tidak bertaraf nasional belum berkembang. Sekolah yang seperti ini dapat mengikuti UN yang nilainya ditentukan oleh pemerintah. Ini sangat disayangkan. Pasalnya, UN mempunyai tujuan yang baik dalam pembangunan nasional dan meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Sehingga, dapat melakukan persaingan dengan negara – negara luar.
Sepatutnya yang kita salahkan siapa? Masyarakat atau pemerintah? Belakangan ini, banyak perdebatan-perdebatan di kalangan intelektual yang membahas mengenai, pantaskah UN dilaksanakan lagi dengan dilihatnya lagi belum meratanya pendidikan? Sungguh ironis memang dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat serta hubungan kerja sama antarnegara. Sangat tertinggal jauh kita dibandingkan dengan negara–negara maju, seperti Amerika, Jepang, Rusia, dll. Seharusnya ketertinggalan menyadarkan pemerintah bahwa Negara Indonesia berada di bawah, khususnya seluruh dinas yang bersangkutan. Bagaimana yang memungkinkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang formal, dan juga bagaimana untuk mengukur kemampuan siswa.
Sebenarnya UN sangat baik dalam pemahaman konsep dalam proses pembelajaran selama 3 tahun belajar bagi berbagai macam tingkatan. Akan tetapi, materi yang dijabarkan banyak yang tidak dapat ditransfer dengan baik. Hal itu menyebabkan yang di daerah yang terutama daerah terpencil, tidak dapat menghadapi ujian dengan lancar, bahkan ujian nasional juga menyebabkan banyaknya terjadi sifat ketidakjujuran. Penguasanya tidak bertanggung jawab, ditambah lagi generasi yang rusak. Kacau deh jadinya negara. Kata orang bilang, makin banyak dosa aja.
Setelah didapatkan juga informasi dari Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah SMA SINAR HUSNI salah satunya, Drs H Sosiar mengatakan bahwa kelulusan 60% dari pemerintah dan 40% dari sekolah. Artinya, dalam segi kelulusan, nilai rapor sangat berpengaruh. Percuma saja nilai ujian bagus, akan tetapi nilai rapornya tidak mendukung. “Same maon”. Alhasil kelulusan sedikit
berada di ujung tanduk”. Juga, dalam persiapan Ujian Nasional diadakan try out selama beberapa tahap. Gelombang I kapan diadakan dan gelombang II kapan, sampai selanjutnya. Sesudah itu, juga diadakan pula les tambahan guna lebih menekankan siswa ke arah ujian nasional sesuai dengan guru bidang studi masing – masing.
Pendapat lain juga mengatakan, dengan lebih menekankan konsep pelajaran persiapan ujian nasional, akan lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar dan tentunya dengan kontrol yang baik, mempelajari poin – poin yang terdapat dalam setiap bab dan sub bab pelajaran. Hal itu dikatakan salah satu guru bidang studi bahasa Inggris SMA SINAR HUSNI, Sugeng Wahyudi. “Menjelaskan pelajaran kepada siswa dengan cermat juga lebih menambah daya pikir siswa dalam menjawab soal – soal yang diberikan,” ujar guru bidang studi lainnya.
Sudah saatnya memang kebijaksanaan ditegakkan dari seorang pemimpin yang tegas dan bijaksana. Sehingga menciptakan negara yang makmur dan penuh semangat kebangkitan.Tuntaskan masalah yang ada hingga ke akar – akarnya. Jadi, tiada lagi masalah penyelewengan, pencurian dan penggelapan. Rakyat pun merasa puas jika negaranya aman. Melalui ujian nasional dalam pembangunan nasional, juga diperlukan pelatihan – pelatihan khusus sebagai fungsi dari mencerdaskan kehidupan bangsa. So, kalau begitu ceritanya negara bangkit, negara maju, negara jaya! Tetapi yang kita ketahui juga entah kapan terjadi hal seperti yang kita inginkan. Entah kapan ada skenario cerita yang menunjukkan negara Indonesia maju dan membuat geger dunia. Dan entahlah, hanya kitalah yang mampu merubah semuanya, terkhusus kepada generasi penerus bangsa. Lakukanlah perubahan dimulai dari perubahan yang paling kecil, sehingga apabila kecil ditambah dan terus ditambah akan menjadi perubahan yang sangat besar pula. Salam pendidikan! Jangan jadikan ujian nasional sebagai momok yang menakutkan! Bravo untuk guru – guru dan siswa – siswi di seluruh Indonesia!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar